Minggu, 06 April 2008

Ayat-ayat Cinta

Novel karya Habibburahman El Shirazy meledak dipasaran diikuti dengan meledaknya versi filmnya garapan Hanung Bramantyo. Banyak yang berkomentar bahwa sentuhan filmnya tidak sedahsyat novelnya. Diluar pendapat tersebut sebenarnya perlu dicari tahu apa yang akan disampaikan oleh sang pengarang dengan mengedepankan judul Ayat-ayat Cinta.
Kita kelompokkan konflik menjadi tiga konflik utama. Pertama adalah konflik dimana Fahri harus menyelesaikan kuliah S2 di Mesir dengan desakkan keluarga untuk segera menikah. Kedua adalah begitu dalamnya cinta Maria kepada Fahri dan ketiga adalah keputusan fenomenal Aisyah untuk mempersilahkan fahri suaminya untuk berpoligami. Dari tiga konflik diatas kita ambil tiga kata utama yaitu menikah, cinta dan poligami.
Menurut ilmu mu'amalah bahwa menikah itu sebagai ibadah. Dua insan berbeda jenis akan halal hubungannya setelah mereka menikah. Dalam cerita disini ditampilkan tata cara menikah sesuai dengan ilmu mu'amalah. Mulai dengan berta'aruf tanpa adanya istilah pacaran. Hal ini yang perlu dicermati ditengah kehidupan nyata yang sangat bebas dalam pergaulan.
Cinta sebagi anugerah dari Allah dikedepankan sebagai sesuatu itu akan dapat berjalan dengan nyaman bila didasari dengan cinta. Dan dengan kecintaan pula membuat Aisyah merelakan suaminya Fahri untuk menikahi Maria sehingga menunjukkan bahwa dalam islam membolehkan berpoligami. Tetapi jangan salah diartikan bahwa poligami itu diperbolehkan apabila terdapat kondisi yang mendesak dan bila dilaksanakan poligami akan menjadi kondisi yang lebih baik, dengan seijin dari sang istri. Dengan demikian bisa diambil kesimpulan dari Ayat-ayat Cinta bahwa menikah karena Ibadah dengan didasari cinta akan menumbuhkan ketenangan dalam keluarga. Cinta yang ada tidak akan melebihi cinta kepada Allah Swt sehingga dengan ikhlas merelakan suaminya untuk menikah lagi hanya mengharapkan barokah dari Allah Swt.

Where’s Your Fiber ?

Nowadays, we often see advertisment about fiber. At an advertisment, we watch that the actor says ‘ Where’s your fiber?’ The actress shows her food which has meat, chicken and othersto the actor. But, the actor still complains. Why food which has protein, vitamines and other nutrition are not enough? Compared to protein, vitamine and other nutrition, dietary fiber is often uncounted. However dietary fiber has a lot of advantages for health, mainly to prevent body from many kinds of disease. It can be used as barrier from large intestine cancer, heart disease, and constipation.
According to Dr. Dennis Gordon, nutrition and dietary fiber researcher at North Dakota State University, US, dietary fiber ia carbohydrate which is indigested or unabsorbed by body, bu useful for ficiologic function of body. There are two kinds of dietary fiber, Soluble fiber like selulose and hemiselulose , and Insoluble feber like gel, gum and pektin. Those substancies can be taken from fruits, vagetables, grains, and beans which have difference contents.
The need of dietary fiber is different. It depending on age. According to Food Facts Asia (1999) adult have to consume dietary fiber 20-30 grams per day or 10-13 grams per 1000 kkal menu. Children over 2 years old, need to consume 5 grams per day which then increase untill 25-35 grams per day after 20 years old. The Old are suggested to consume 10-13 grams per 1000 kkal menu. Till now, there is no research for baby below 2 years old.
Dietary fiber is useful for our body. It prevents body from large intestine cancer (Colorectal) which is one cancer that is common in Asia. Dietary fiber keeps the large intestine function normal and repairs its function. High cunsumption of dietary fiber reduces the risk of large intestine cancer, espescially insoluble fiber.
The next is heart disease. National Heart, Lung and Blood Institute, US, reports that there is direct relation between cholesterol and heart disease. High cholesterol increases the risk of heart disease. Dietary fiber, espescially soluble fiber, can avoid fat absorption by body. Thus, soluble fiber helps us to decrease cholesterol in blood and also heart disease risk.
Dietary fiber also prevents body from Constipation. Constipation is situation when a person difficult to have a motion. Consuming insoluble fiber produces the soft faeces, then body only needs low muscle contraction to have a motion easilly. Dietary fiber also irritates peristaltic movement of intestine in order to have a motion normally. So, dietary fiber decreases the risk of constipation.
In summary, dietary fiber has a lot of advantages for our health. Dietary fiber prevents body from large intestine cancer, heart disease, and constipation. Thus, what are you waiting for? Find your fiber !!!

Naik kereta api tut...tuutt...tuuuuttt

Sejak kecil saya sangat menyukai kereta api. Hampir setiap hari saya merengek agar dapat diajak ke stasiun kereta api tak jauh dari tempat tinggal saya dahulu. Setiap lebaranpun saya selalu diajak naik kereta api untuk mengunjungi nenek di Klakah, Lumajang. Entah mungkin sudah jalannya, sayapun bekerja di sebuah kontraktor spesialis membangun infrastruktur kereta api.
Kereta api di Indonesia masih menjadi transportasi idaman. Sebagai salah satu Mass Rapid Transportation (MRT) Kereta api masih dijadikan andalan. Bila dilihat angkutan antar kota, kereta api tetap unggul karena dapat mengangkut banyak penumpang dan juga menjangkau pusat-pusat kota karena setiap Stasiun selalu berada di jantung kota. Kondisi ini sangat berbeda dengan moda angkutan lain, misal bus, dimana terminal selalu direlokasi untuk berada jauh dipinggir kota.
Dibalik semakin primadonanya kereta api, ternyata memiliki infrastruktur yang jauh dari memuaskan. Semakin sering kita mendengar kecelakaan Kereta api maupun kecelakaan yang ada hubungannya dengan kereta api misalnya tertabraknya kendaraan lain di perlintasan yang tidak dijaga.
Secara awam kita pun akan beranggapan bahwa hal tersebut dikarenakan kondisi sarana maupun prasarana kereta api yang sudah tua, notabene kereta api kita merupakan peninggalan dari penjajah Belanda. Tapi apakah betul demikian? Ternyata lebih dari demikian. Melihat dari beberapa kasus anjloknya kereta api akhir-akhir ini, dapat kita petakan bahwa beberapa lokasi rawan kereta anjlok adalah lintas yang melewati daerah pegunungan. Sebut saja daerah Cikampek - Bandung dan Cirebon - Purwokerto. Pada lintas pegunungan kondisi track akan berlengkung banyak dengan radius (R) kecil (<300m)
Dalam kasus lain, banyak asesoris rel yang menjadi incaran pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. sehingga mengurangi kestabilan dari rel yang sangat memungkinkan menjadikan kereta anjlok.
Untuk mengeliminir semua kasus-kasus diatas, pihak Departemen perhubungan melalui Dirjen Perkerataapian berkomitmen untuk memperbaiki sarana maupun prasarana kereta api. Sudah banyak peningkatan-peningkatan jalan dilakukan dengan mengganti rel menjadi lebih besar, betonisasi bantalan, dan revisi-revisi lengkung yang membahayakan.
Semoga dengan komitmen yang baik akan mendatangkan sebuah hasil yang baik juga. Kita akan mendengarkan terus lagu naik Kereta api tut tuutt tuuuttt dengan aman dan nyaman.(cel)

Yogyakarta, The City of Tolerance

Saya terlahir di Yogyakarta. Kota yang berhati nyaman terkenal sebagai kota pelajar dan budaya.
Yogyakarta berdiri sejak adanya Perjanjian Giyanti. Perjanjian yang memisahkan antara Surakarta Hadiningrat dengan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Selanjutnya Ngayogyakarto Hadiningrat lebih dikenal dengan Yogyakarta. Secara kultur feodal, Yogyakarta terbagi oleh Kasultanan dan Kadipaten Pakualaman.
Inilah yang menjadikan ciri keistimewaan Yogyakarta yang selalu dipimpin Oleh Sultan Hamengkubuwono (HB) dan Paku alam (PA).
Yogyakarta atas kebijaksanaan Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIII menyatakan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal ini menjadikan Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa terdiri dari Kota Yogyakarta dan 4 kabupaten yaitu Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul dan Sleman.
Seiring dengan tumbuh kembangnya pendidikan di Yogyakarta, kota ini bagaikan idola bagi pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia.
Bermunculannya tempat indekost dan asrama-asrama daerah seluruh Indonesia menciptakan Yogyakarta sebagai Bhinneka Tunggal Ika.
Suasana yang berhati nyaman penuh toleransi membuat kultur yang berbeda-beda bukan sebagai pembeda tetapi sebagai pewarna bagi kehidupan di Yogyakarta.
Apa jadinya bila semua perbedaan itu tidak diikuti dengan jiwa toleransi yang tinggi? Jawabnya adalah bukan Yogyakarta.Tapi karena ini adalah Yogyakarta, The City of Tolerance.(cel)