Saya terlahir di Yogyakarta. Kota yang berhati nyaman terkenal sebagai kota pelajar dan budaya.
Yogyakarta berdiri sejak adanya Perjanjian Giyanti. Perjanjian yang memisahkan antara Surakarta Hadiningrat dengan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Selanjutnya Ngayogyakarto Hadiningrat lebih dikenal dengan Yogyakarta. Secara kultur feodal, Yogyakarta terbagi oleh Kasultanan dan Kadipaten Pakualaman.
Inilah yang menjadikan ciri keistimewaan Yogyakarta yang selalu dipimpin Oleh Sultan Hamengkubuwono (HB) dan Paku alam (PA).
Yogyakarta atas kebijaksanaan Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIII menyatakan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal ini menjadikan Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa terdiri dari Kota Yogyakarta dan 4 kabupaten yaitu Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul dan Sleman.
Seiring dengan tumbuh kembangnya pendidikan di Yogyakarta, kota ini bagaikan idola bagi pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia.
Bermunculannya tempat indekost dan asrama-asrama daerah seluruh Indonesia menciptakan Yogyakarta sebagai Bhinneka Tunggal Ika.
Suasana yang berhati nyaman penuh toleransi membuat kultur yang berbeda-beda bukan sebagai pembeda tetapi sebagai pewarna bagi kehidupan di Yogyakarta.
Apa jadinya bila semua perbedaan itu tidak diikuti dengan jiwa toleransi yang tinggi? Jawabnya adalah bukan Yogyakarta.Tapi karena ini adalah Yogyakarta, The City of Tolerance.(cel)
Minggu, 06 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar